Senin, 04 Maret 2013

ILMU TARIKH AR-RUWAT


“ILMU TARIKH AR-RUWAT”
(Sebuah Kajian Tentang Ilmu Sejarah Para Perawi Hadits)

Sebelum masuk kepada pembahasan tentang ilmu tarikh ar-ruwat, alangkah baiknya kita mengetahui sekilas tentang ilmu rijal al-hadits yang merupakan induk dari ilmu sejarah para perawi. Ilmu rijal al-hadits adalah ilmu yang membahas hal ikhwal dan sejarah para rawi dari kalangan sahabat, tabiin, dan atba’ al-tabi’in.
Ilmu ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ranah kajian ilmu hadits karena kajian ilmu hadits pada dasarnya terletak pada dua hal, yaitu matan dan sanad. Ilmu rijal al-hadits mengambil tempat yang khusus mempelajari persoalan-persoalan sekitar sanad maka mengetahui keadaan rawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan[1].

Ilmu rijal al-hadits terbagi dua yakni ilmu tarikh ar-ruwat dan ilmu al-jarh wa at-ta’dil[2], namun sebagian ulama ada yang memandang ilmu al-jarah wa at-ta’dil sebagai ilmu yang terpenting dalam ilmu hadits, maka ilmu ini dijadikan ilmu yang berdiri sendiri[3].
Ilmu tarikh ar-ruwat adalah sebuah disiplin ilmu hadits yang mengetahui para perawi hadits dari segi yang berhubungan dengan periwayatan mereka terhadap hadits. Hal ini bisa diperoleh dengan menjelaskan keadaan mereka, tanggal kelahiran, wafat, syuyukh (guru-guru mereka), kapan mereka menerima hadits, siapa yang merawikan, negri dan tempat mereka, rijalul hadits yang ada di masa itu, sejarah kedatangannya ke negri yang berbeda-beda, apakah ia menerima hadits dari gurunya sebelum ikhtilath[4] gurunya atau setelahnya dan lainya dari hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hadits.
Ilmu sejarah para rawi ini berkembang seiring dengan perkembangan periwayatan hadits dalam Islam, para ulama sangat memperhatikan sekali dengan disiplin ilmu ini agar memungkinkan mereka untuk mengetahui para perawi sanad, mereka menanyakan para rawi tentang umur dan tempat tinggal mereka, kapan mereka menerima hadits dari guru-guru mereka sebagimana mereka bertanya tentang para perawi itu sendiri. Merupakan sebuah kewajiban bagi para ulama untuk memperhatiakan hal ini semua agar mereka bisa mengetahui validitas hadits yang disampaikan oleh para perawi, begitu pula agar mereka mengetahui bersambung dan putusnya sanad serta yang lainnya
Ilmu sejarah para rawi merupakan senjata ampuh untuk melawan kebohongan para pendusta dalam hadits, sebagaiman yang dikatakan oleh Sufyan ast-Tsauri: “manakala para perawi menggunakan kebohongan dalam meriwayatkan hadits maka kami akan menggunakan ilmu sejarah untuk menghadapi mereka”.
Para ulama berbeda metode dalam penulisan kitab-kitab sejarah para perawi. Sebagian mereka ada yang menulis berdasarkan thabaqat[5] seperti at-Thabaqat al-Kubro  karya Syekh Muhammad bin Sa’ad (168-230 H.) sebuah kitab thabaqat tertua dari yang lainnya, selain itu ada pula Tabaqath ar-Ruwat karya Khalifah bin Khayyat al-‘Ushfuri (240 H) dan lainnya.Ada yang mengarang berdasarkan tahun, ada pula yang berdasarkan abjad hal ini bertujuan untuk mempermudah pencarian seperti At-Tarikh Al-Kabier karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, selain itu ada juga yang menghimpun kitab-kitab terjamah para perawi hadits seperti kitab tahdzib at-tahdzibkarya Al-Hafidz Syihabuddin Abi Fadl Ahmad bin Ali (Ibnu Hajar) Al-Astqalani (773-852 H). para muhaddits tidak hanya sampai disini, di antara mereka ada yang menulis berdasar nama-nama mereka,kuniyah (panggilan), laqab (gelar), maupun nasab keturunan dan lainnya.
Wallahu A’lam Bish Showab………………


[1] Agus Solahuddin & Agus suyadi, “Ulumul Hadits”, Bandung, Pustaka Setia, cet I, 2009, hal.112
[2] Mahmud ‘Ujaj Khatib, “Ushul Al-Hadits, ‘Ulumuhu wa Mushtholahuhu”, Daar Al-fikr, cet.1971 hal.253
[3]Agus Solahuddin & Agus suyadi, “Ulumul Hadits”, Bandung, Pustaka Setia, cet I, 2009, hal.112
[4] Ikhtilath adalah perubahan keadaan dalam diri perawi seperti dari tidak pikun kepada pikun dan lainnya.
[5]Sekumpulan atau kelompok para rawi yang hidup dalam satu masa yang sama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar