Senin, 04 Maret 2013

Khotbah Hari Raya 'Idul Fitri


اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،/ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،/ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،/ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لااله الا الله هو الله أكبر الله اكبر ولله الحمد. الْحَمْدُ لِلهِ على نعامه المتواترة، وفضائله المتكاثرة، ومنانه الغامرة، اللهم صلى وسلم على سيد أهل الدنيا والآخرة، سيدنا محمد بن عبد الله، وعلى آله وأصحابه الأنجوم الظاهرة، أَمَّا بَعْدُ
فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإنها وصيته سبحانه للأولين والآخرين من عباده، قال الله تعالى: اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون (.............)
Jamaah sholat ‘idil fitri yg dirahmati Allah
Hari ini tanggal 1 syawwal bukan lagi bulan ramadhan,/ ramadhan telah pergi,/ ramadhan telah meninggalkan kita./ Kehadiran ramadhan yang baru saja berlalu telah mengkondisikan kita/ sehingga terlihat dan terasa begitu dekat dengan Allah swt./ setelah sebulan penuh kita (kaum muslimien) berjuang keras menempa diri melawan hawa nafsu/ dengan berpuasa,/ qiyamul lail,/ tadarrus, membayar zakat, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya/. Dan hari ini kita sampai pada hari yang ditunggu-tunggu yakni hari raya ‘idul fitri,/ namun bukan berarti hari ini adalah akhir dari semua ibadah sunnah yang kita kerjakan di bulan puasa,/ tetapi hendaknya menjadi awal ghirah kita dalam melaksanakan ibadah di hari-hari mendatang.

Allahu akbar3x walillahilhamd…..
Ma’asyiral muslimien wal muslimat yang berbahagia….
Dalam surah Al-A’la Allah swt berfirman;
قد أفلح من تزكى # وذكر اسم ربه فصلى #
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya # dan menyebut-nyebut (dengan lidah dan hatinya) akan nama Tuhannya serta mengerjakan sembahyang #
(Q.S. Al-A’la: 14-15)
Sebagian ulama berpendapat/ bahwa ayat ini menjelaskan tentang hari raya ‘idul fitri,/ di dalam ayat ini setidaknya ada tiga hal yang harus dikerjakan/ agar bisa memperoleh keberuntungan dunia dan akhirat/ yakni malakukan tazkiyah (penyucian diri),/ zikrullah serta mengerjakan sholat (dengan khusyu’ dan khudhu’)./ Tiga hal tersebut telah kita kerjakan dalam bentuk nyata,/ kita sucikan diri dengan zakat fitrah,/ berzikir dengan mengumandangkan Takbir, Tahmid, Tasbih dan Tahlil / dan baru saja kita telah melaksanakan sholat ‘idul fitri berjamaah. Secara zahir sempurna sudah tiga hal di atas kita kerjakan, namun fitrah yang berarti kesucian tidak cukup hanya dimaknai sebatas itu saja. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita semua dengan ayat seterusnya
بل تؤثرون الحياة الدنيا # والآخرة خير وأبقى #
“(tetapi kebanyakan kamu tidak melakukan yang demikian) bahkan kamu utamakan kehidupan dunia # padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal”
Hadirin/ jama’ah sholat ‘idil fitri yang dirohmati Allah…….
Fitrah dalam arti bahasa berasal dari kata fathara yafthuru / yang berarti menciptakan./ Maka dalam konteks ini/ kembali kepada fitrah berarti kembali kepada asal penciptaan/ atau lebih dikenal dengan kembali kepada kesucian/ dan lebih mudah lagi/ kesucian itu diibaratkan dengan seorang bayi yang baru lahir/ (bersih/ polos/ tanpa dosa/), namun yang perlu kita fahami di sini adalah sifat seorang bayi./ Bayi yang baru lahir memiliki sifat pasrah/ dan tidak berdaya,/ jangankan untuk memakai pakaian,/ untuk makan dan minum saja/ ia pasrah sepenuhnya pada orang tuanya./ dari sini kita bisa memahami bahwa fitrah yang sebenarnya adalah mengakui bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah milik Allah. Maka dari itu, kalimat takbir, tahmid, tasbih dan tahlil yang kita lantunkan semenjak senja kemarin hingga saat ini adalah bentuk dari pengakuan kita secara lisan bahwa tidak ada yang pantas dibesarkan dan diagungkan kecuali Allah dan segala sesuatu adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Allahuakbar..3x wa lillahilhamd…
Jama’ah sholat ‘ied yang dirohmati Allah…..
Setelah kita mengakui dengan lisan kita/ bahwa segala sesuatunya adalah milik Allah,/ apakah kita akan masih mengagung-agungkan harta,/ pangkat dan jabatan,/ keturunan,/ kecantikan dan ketampanan/ atau bahkan ormas-ormas yang kita pegang,/ partai-partai politik yang kita dukung./ dan lebih menyedihkan lagi adanya sekat-sekat di antara kaum muslimin lantaran itu semua. Yang kaya mengambil jarak dengan yang miskin lantaran takut diminta-minta, pejabat tidak peduli lagi dengan rakyatnya lantaran ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan, yang muda tidak mau lagi menghampir kepada yang tua karena gengsi dengan kemudaan dan kegagahan. Jika demikian adanya,/ maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada fitrah/ (mengakui/ bahwa segala yang kita miliki adalah pemberian dan karunia Allah/ dan kita sama sekali tidak memiliki apa-apa).
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Di hari penuh kebahagiaan dan kasih sayang ini, sejarah mencatat sebuah cerita yang cukup dramatis/ yang terjadi pada diri rasulullah saw,/ dan sudah seharusnya cerita itu menjadi bahan perenungan kita/ agar di hari penuh bahagia ini kita bisa menimbang rasa dan peduli pada sesama./ Cerita ini terjadi di Madinah,/ pada hari raya ‘idul fitri,/ Rasulullah saw seperti biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga/ dalam kunjungan itu, rasulullah melihat semua orang bahagia. Anak-anak bermain dengan menganakan pakain hari rayanya./ Namun, tiba-tiba pandangan Rasulullah tertuju pada seorang anak kecil sedang duduk bersedih,/ ia memakai pakaian penuh tambal dan sepatu rusak./ Rasulullah lalu bergegas menghampirinya./ melihat kedatangan Rasulullah/ Anak kecil itu pun menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis./ Rasulullah lantas meletakkan tangannya di atas kepala anak kecil itu dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya; “wahai anakku mengapa kamu menangis?/ bukankah hari ini adalah hari raya?”,/ anak kecil itu menjawab sambil bercerita;/ “pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan bahagia./ anak-anak bermain dengan riang gembira/ aku lalu teringat pada ayahku,/ itu sebabnya aku menangis,/ ketika itu hari raya terakhir bersamanya,/ ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru,/ waktu itu aku sangat bahagia,/ lalu suatu hari ayahku pergi berjuang bersama rasulullah saw/ dan kemudian ia gugur sebagai syahid di medan perang,/ sekarang ayahku telah tiada lagi,/ aku menjadi anak yatim,/ hidup sebatang kara tidak ada tempat mengadu, dan berbagi cerita/ jika aku tidak menangis untuknya lalu untuk siapa lagi?”/ setelah Rasulullah mendengar cerita itu/ seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam,/ dengan penuh kasih sayang/ beliau membelai kepala anak kecil itu sambil berkata;/ “Anakku hapuslah air matamu/….angkatlah kepalamu/ dan dengarkan apa yang akan aku katakana kepadamu/…apakah kamu ingin/ agar aku Rasulullah menjadi ayahmu/ Fatimah menjadi kakamu,/ hasan dan husin menjadi adik-adikmu/ dan ‘Aisyah menjadi ibumu?/ Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?/ Begitu mendengar hal itu/ anak kecil itu langsung berhenti menangis,/ ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada di hadapannya,/ ia adalah Rasulullah,/ orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya/ dan menumpahkan segala gundah yang ada di hatinya,/ anak kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah,/ namun entah mengapa/ ia tidak bisa berkata sepatah katapun,/ ia hanya bisa menganggukkan kepala sebagai pertanda setuju (iya),/ anak kecil itu lalu bergandingan tangan dengan Rasulullah menuju rumah,/ Sesampainya di rumah/ wajah dan kedua tangan anak itu dbersihkan/ dan rambutnya disisir/ ia kemudian diberi pakaian yang indah dan makanan, serta uang lalu ia diantar keluar agar bias bermain bersama anak-anak yang lain.
Ma’asyiral muslimien as’adakumullah shabiehatakum
Dari cerita di atas kita bisa memetik beberapa hikmah di antaranya; besarnya kecintaan dan kasih sayang Rasulullah terhadap sesama, lebih-lebih kepada anak yatim dan orang-orang yang tak berdaya tanpa membeda-bedakan setatus dan kedudukan. Maka pantas jika Allah menyebutnya di dalam al-qur’an dengan sebutan rauufurraohiem (orang teramat kasih dan sayang). Rasulullah telah wafat 14 abad yang silam, namun sepirit dan akhlak beliau tidak boleh mati dan harus dihidupkan di setiap hati kita kaum muslimien.
Dan dari cerita diatas pula kita seharusnya sadar bahwa segala yang ada di dunia ini bersifat fana dan akan hilang pada waktunya. Kita bisa merenungkan betapa banyak saudara-saudara kita kaum muslimin, orang-oarang yang kita cintai dan sayangi pada tahun yang lalu masih bisa merayakan hari raya bersama kita, namun saat ini mereka telah tiada, telah mendahului kita, pergi buat selama-lamanya memenuhi panggil Allah swt. Oleh karena itu dalam suasana fitrah ini hendaklah kita saling memaafkan, tegur sapa satu sama lainnya, agar dikemudian hari kelak kita tidak di bebankan dgn urusan-urusan yang berhubungan dengan manusia,
Jamaah shola ‘ied yang di rahmati Allah.......
Akhirnya dari mimbar yang suci ini ulun mengajak diri pribadi ulun dan sampian barataan untuk selalu meningkatkan taqwa kepada Allah swt, dengan jalan mengerjakan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.  Dengan demikian mudah-mudahan kita bisa kembali kepada fitrah yang sesungguhnya Amien allahumma amien.....
إن أحسن الكلام/ كلام الله ملك العلام/ وبقوله يهتدي المهتدون/...... أعوذ بالله من الشيطان الرجيم # بسم الله الرحمن الرحيم
قد أفلح من تزكى # وذكر اسم ربه فصلى # بل تؤثرون الحياة الدنيا # والآخرة خير وأبقى #
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم/ ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم/ وتقبل الله مني ومنكم تلاوته/ وأستغفر الله لي ولكم/ ولسائر المسلمين والمسلمات/ من كل ذنب/ إنه هو الغفور الرحيم.....

2 komentar: